WAWANCARA
Rachel Djuanda. (polindonetwork/dok)
21/12/2015 06:57:30
1683

Dr Rachel Juanda: Punya Kulit Sensitif, Waspadai Dermatitis Atopik

Harianlampung.com - Kulit adalah pertahanan pertama tubuh terhadap benda asing dan juga organ terbesar dari tubuh manusia. Sebagai bagian terluar dari tubuh manusia, kulit sering sekali terpapar polusi dan radikal bebas. Hal ini tentunya bisa membuat kulit terlihat kusam dan sangat rentan terserang penyakit.

Dermatitis atopik (DA), adalah salah satu penyakit yang sering menyerang kulit. DA atau lebih dikenal dengan istilah eksim atopik adalah radang pada kulit berbentuk ruam yang timbul hanya pada orang yang memiliki kulit sensitif dan mudah teriritasi. Gangguan pada kulit ini bisa terjadi dalam jangka waktu lama. Bahkan, sewaktu-waktu dapat kambuh dan tidak bisa hilang.

"Umumnya, DA diderita oleh anak, khususnya anak yang berumur kurang dari 5 tahun dengan prevalensi 9-21 persen. Namun, DA juga dapat diderita oleh orang dewasa dengan prevalensi diperkirakan 2-10 persen," ujar Dokter spesialis kulit dan kelamin dari Rumah Sakit Bunda Jakarta, Rachel Djuanda, kepada polindonetwork di Jakarta, kemarin.   

Penderita DA umumnya memiliki kulit yang sangat kering, sensitif dan mudah teriritasi. Kondisi ini disebabkan kulit kekurangan caramide, sehingga menyebabkan perlindungan kulit berkurang.

Kepada Elva Setyaningrum, ahli dermatologis ini menjelaskan ciri-ciri penderita DA. Rachel juga berbicara panjang lebar tentang penyebab DA dan cara penanganan. Dokter spesialis kulit ini juga memberikan tip, cara efektif untuk menghilangkan rasa gatal pada kulit dan efek samping menggunakan pemutih. Berikut wawancaranya.

Apa ciri-ciri seseorang mudah menderita penyakit  Dermatitis atopik?

Tanda-tanda penderita DA, mereka memiliki kulit yang sangat kering, sensitif dan mudah teriritasi. Kondisi ini terjadi karena rendahnya produksi ceramide, terutama ceramide tipe 1 pada bagian mortar atau semen kulit. Kekurangan ceramide ini mengakibatkan fungsi pelindung kulit berkurang.  Selain itu, kemampuan kulit untuk menampung air dan siklus hidup korneum epidermis menjadi lebih pendek.

Jika fungsi pelindung kulit berkurang, maka akan mempermudah masuknya berbagai macam benda asing, seperti bakteri dan jamur. Kehadiran bakteri dan jamur itu menyebabkan reaksi inflamasi atau peradangan yang akan merangsang pengeluaran mediator-mediator inflamasi dan menyebabkan timbulnya gejala yang dirasakan penderita.

Apa saja gejala-gejala DA tersebut?

Misalnya, lesi ecze-matosa, xerosis, lichenification dan prutitus hebat. Ini akan menimbulkan rasa perih,  dan sangat gatal yang akan memancing penderita untuk menggaruk area yang gatal tersebut. Celakanya,  menggaruk malah akan memperburuk kemampuan fungsi pelindung kulit.

Menurut Anda apa menyebab DA?


DA bisa disebabkan karena faktor genetik yang diperparah oleh faktor eksternal. Bagi mereka yang potensi menderita DA, penyakit ini gampang kambuh karena sering menggunakan sabun antiseptik, produk pewangi atau deterjen yang membuat kulit menjadi tambah kering.

Oleh karena itu, mereka yang rentan menderita penyakit kulit ini adalah orang-orang yang sering brsentuhan dengan air dan sabun atau deterjen, seperti perawat, pengasuh anak dan sebagainya.  Tapi ada juga orang yang dermatitisnya kambuh saat sedang stres.

celakanya, karena kulit terasa gatal, maka penderita biasanya akan menggaruk terus dan ini bisa membuat kulit semakin gatal, terus begitu sampai kulitnya jadi eksim.

Untuk mencegah kekambuhan, saya menyarankan melakukan modifikasi gaya hidup. Agar kulit tidak semakin kering, sering-seringlah memakai pelembab.

Bagaimana menangani kulit yang kondisinya seperti itu?


Untuk penanganan DA, pada umumnya, dokter memberikan kortikosteroid topical atau antihistain untuk meredakan gejala penyakit tersebut, terutama rasa gatalnya.

Namun perlu diingat, pengobatan yang diberikan itu tidak bisa memberikan sesuatu untuk memperbaiki fungsi pelindung kulitnya, hanya meredakan gejala saja.

Seringkali pula, penderita DA menggunakan keampuhan kortikosteroid topikal secara tidak tepat dan berlebihan. Pemakaian kortikosteroid topikal berlebihan dapat menimbulkan efek samping, mulai dari warna kulit menjadi lebih putih atau hitam dibandingkan yang lainnya hingga membuat garis seperti stretch mark.

Bahkan, penggunaan kortikosteroid topikal dalam jangka waktu yang lama malah dapat membuat DA menjadi resisten terhadap obat tersebut.

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk mengimbangi penggunaan kortikosteroid topikal?

Semua obat tentu akan menimbulkan efek samping jika penggunaannya berlebihan. Untuk itu, penggunaan kortikosteroid topikal harus diimbangi dengan penggunaan pelembab untuk mengembalikan kelembaban kulit, memperbaiki fungsi pelindung kulit (skin borrier function), mengurangi pruritus, serta memberikan efek anti inflamasi dan memiliki PH yang asam. Pelembab juga dapat meningkatkan fungsi antimikrobial lamellar granular contents.

Adakah cara efektif dan mudah menghilangkan rasa gatal pada kulit?

Ada cara sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengatasi masalah gatal pada kulit, Kalau terjadi gatal-gatal, kompres saja dengan air es untuk meredamnya. Kompresan air es dapat mencegah rasa gatal yang berkepanjangan, sehingga tidak memunculkan eksim.

Ketika terserang penyakit kulit, apa yang harus dilakukan?

Ketika anda memiliki masalah pada kulit, yang paling utama harus dilakukan adalah cari tahu dulu apa penyebabnya. Mengetahui penyebab akan menjadi acuan ketika Anda tidak bisa mengatasi masalah kulit dan berkonsultasi ke dokter.

Saya sarankan, jangan asal menggunakan produk tanpa rekomendasi medis. Ini untuk menghindari terjadinya infeksi pada kulit. Jika sudah mengetahui penyebab dan berkonsultasi ke dokter, yubah gaya hidup dengan hidup sehat.

Saat ini banyak orang pakai pemutih agar kulitnya terlihat lebih cantik. Apakah pengggunaan pemutih bisa berbahaya?

Kulit yang putih dan bersih masih menjadi dambaan banyak perempuan di Indonesia. Tak cukup dengan produk kosmetik yang mengandung pemutih, saat ini juga ada terapi instan yang diklaim mampu memutihkan seluruh bagian tubuh.

Salah satu terapi yang dalam beberapa tahun terakhir ini populer adalah suntik vitamin C. Jika dilakukan rutin, suntik vitamin C dengan dosis kurang lebih 2000 miligram sekali suntik bisa membuat kulit menjadi lebih lembab dan putih.

Ada juga metode suntik DNA atau terapi plasma darah untuk menghilangkan flek hitam di wajah. Namun, pada dasarnya penyuntikan dengan vitamin C akan membuat kulit terlihat lebih cerah. Bukan lebih putih, tapi mencerahkan.

Seperti halnya foundation yang punya level warna, maka kalau dilakukan terapi dengan vitamin C paling naik satu atau dua level warna kulitnya, tidak mungkin ekstrim putihnya.

Mencerahkan kulit wajah merupakan prosedur yang biasa, namun untuk mencerahkan seluruh badan sebaiknya di bawah pengawasan dokter. Bahkan, kita harus benar-benar tahu apa isi obatnya karena ada dosisnya juga. Sebetulnya, keinginan memiliki kulit putih, justru berbahaya, risiko kanker kulitnya lebih tinggi, apalagi kita hidup di negara tropis.

Saya sarankan, mereka yang sudah melakukan terapi pemutihan kulit harus ekstra hati-hati menjaga kulitnya dari paparan sinar matahari. Harus pakai sunblock terus dan sebisa mungkin berada di dalam ruangan.

Kulit putih seperti milik orang-orang di negara Barat, memiliki risiko kanker lebih tinggi. Tapi kalau kulit berwarna lebih terlindungi. Coba lihat orang Bule, kalau kena sinar matahari kulitnya bukan menghitam tapi jadi merah.
(pin)