Rabu, 21 November 2018
Kapolda Lampung Inspektur Jenderal Polisi Purwadi Arianto, M.Si
20/1/2015 17:29:23
5486
Jejak Presiden Soekarno Ada di Halaman Masjid Al-Furqon


Masjid Al-Furqon Bandarlampung (harlam/dok)

Harianlampung.com - Jejak Ir Soekarno, proklamator dan Presiden pertama RI pernah ada di Lampung, salah satunya pemimpin kharismatik itu memprakarsai pembangunan Masjid Agung Al-Furqon Kota Bandarlampung. Masjid yang kini jadi kebanggaan dan terbesar di kota itu.

Masjid paling megah, terletak di tempat strategis, selalu jadi tempat salat berjamah berbagai kalangan di Bandarlampung maupun daerah lainnya, digagas Presiden Soekarno pada tahun 1951.

Ismail (77), saksi hidup yang mengetahui seluk beluk detail masjid itu mengisahkan, pada tahun itu Soekarno membeli lahan untuk masjid yang tepat di jantung Kota Bandarlampung dari kakek istrinya, Cak Anang, setelah dibeli, kata Cik Mastia binti H Usman, istri Ismail, Soekarno kemudian mewakafkan lahan tersebut untuk masjid.

Sepuluh tahun kemudian, di tahun 1961, di lahan tersebut diletakan fondasi, batu bata, dan tahapan lainnya untuk pembangunan sebuah masjid.

Cik Mastia kala itu yang masih kanak-kanak ikut menyaksikan peletakan batu pertama pembangunan masjid oleh Soekarno.

"Ketika Soekarno datang, warga berduyun-duyung menyaksikannya. Kami mengibar-ngibarkan Sang Merah-Putih dengan riang gembira," ujar Cik Mastia yang kemudian mengungkapkan kekagumannya pada sosok Soekarno.

Keluarga besar Cak Anang, cucu, dan cicitnya, hingga kini masih banyak yang bermukim di Jl. Rasuna Said, Lungsir. Keluarga Cik Mastia keturunan Palembang-Banten.

Cik Mastia dan suaminya kini berdagang aneka penganan ringan di depan rumah mereka. Pasangan kakek dan nenek yang sudah punya cicit ini  bahagia dan mengisi waktu dengan mengurus warung sederhana mereka.

Menurut istri Ismail, sebenarnya Presiden Soekarno saat membeli lahan dari kakeknya lebih luas dari arena Masjid Al-Furqon seperti yang bisa dilihat saat ini.

Lahan yang dibeli Soekarno pertama kali luasnya hingga guest house milik Dinas Kehutanan Lampung. Istri Ismail tak paham kenapa di kemudian hari sebagian lahan itu menjadi permukiman warga.

Mungkin, kata dia, karena lama tak dibangun sehingga warga banyak yang mematok dijadikan permukiman mereka.

Kini di lahan seperti yang ditunjukkan Cik Mastia bukan hanya permukiman warga, telah berderat perkantoran megah, rumah dan toko, dan kantor milik pemerintah.


Masjid Agung Al-Furqon ketika dibangun Soekarno, tidak seperti sekarang ini. Perubahan terjadi ketika di akhir era kepemimpinan Gubernur Poejono.

Poedjono merehab dan merenovasi masjid sedemikian rupa, hingga seperti yang dilihat saat ini. Gubernur Poedjono membangun kembali masjid menjadi dua lantai dan dilengkapi menara.

Era Wali Kota Bandarlampung Herman HN, halaman luas masjid diubah menjadi taman kuliner masyarakat.

(hermansyah djazz/riz/eh)

  Artikel Terkait
Dilla Dan Doni, Muli Mekhanai Lampura 2015
Dinas Pariwisata Gelar Lomba Cinderamata
Masjid Terapung, Bingkisan Istimewa Untuk Masyarakat Ringgung
Ditargetkan 50 Ribu Orang Kunjungi Jogja Air Show
Diplomasi Kuliner, Menpar Resmikan Restoran Di Tiongkok